ICC Mass Homily 11/22/25: Berani Bersaksi dan Belajar Rendah Hati
By Romo Christian Hoper, SCJ
Bible readings for the Mass (The Solemnity of Our Lord Jesus Christ, King of the Universe): 2 Samuel 5:1-3, Colossians 1:12-20, and Luke 23:35-43
Saudara/ri terkasih hari ini, dalam perayaan yang luar biasa, kita merayakan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam. Di sisi lain, kita juga merayakan hari raya Orang Muda Sedunia tahun 2025 dengan mengusung tema “Juga kalian, bersaksilah, karena kalian ada bersama-Ku.”
Refleksi untuk Orang Muda
Teman-teman yang terkasih, Bapa Paus mengundang kita untuk berani bersaksi sebagai orang muda. Kita menyadari dan tahu bahwa kita hidup di zaman yang serba mudah dan instan. Namun, hal ini menjadi tantangan yang begitu besar bagi kita. Tak jarang generasi kita (Gen-Z dst.) sering dipanggil Generasi Strawberry. Maksudnya ialah acap kali kita sering “kecut” atau “lembek” seperti strawberry. Sikap moody dan inkonsisten mewarnai jalan hidup kita sebagai orang muda. Apakah kita salah? Tidak semuanya salah dan tidak semuanya kita benar. Oleh karenanya, Paus mengingatkan kita mari kita menjadi orang muda yang berani bersaksi.
Dalam hal ini, saya ingin mengundang kita semua, orang muda, untuk berani belajar memanggul salib hidup kita masing-masing. Mari kita berani berjuang dan mengarahkan diri kepada Allah. Seraya meminta bantuan-Nya untuk menuntun dan menyemangati langkah hidup kita. Berani menjadi saksi iman. Dan jangan takut, karena Allah ada bersama kita.
Buat para orang tua, mari kita juga mendukung kedewasaan iman anak kita. Acap kali, orang tua ber-drama “kasihan … mereka nggak boleh menderita, mereka jangan sampai ini … itu …”. Orang tua sering berperan mengambil dan memanggul salib anak. Hal ini juga kurang tepat. Sebagai orang tua, kita juga harus belajar mempersiapkan anak kita untuk bisa memanggul salib hidup mereka masing-masing. Ada masa dimana orang tua tidak akan berada lagi di dunia ini. Mari kita ajarkan anak-anak kita untuk siap memanggul salib hidup mereka. Sambil kita tetap memperhatikan mereka dari kejauhan dan tetap membimbing mereka.
Mari, sebagai orang tua, kita arahkan pada akhirnya anak kita mampu memanggul salibnya dan ketika anak lelah, mereka tahu harus lari kemana, yaitu Allah sendiri sebagai tumpuan hidup dan kekuatan mereka.
Bagi Kita untuk Belajar Rendah Hati dan Bertobat
Bacaan hari ini terlihat berbanding terbalik dengan perayaan Kristus Raja Semesta Alam. Gambaran raja tidak begitu terlihat dalam diri Yesus. Sebaliknya mahkota dan tahta yang Ia gambarkan adalah mahkota duri dan salib. Salib adalah lambang kehinaan bagi orang Yahudi. Dan Yesus terpaku di salib tersebut. Lebih lagi, sesudah disalibkan, Yesus masih menerima hinaan dan ejekan dari para imam, prajurit, dan bahkan seorang yang disalibkan bersama dengan Dia.
Kalau mau adil, sebenarnya Yesus tidak layak untuk diperlakukan seperti itu. Namun, karena cintaNya kepada umat manusia, ia rela memilih jalan merendahkan diri dan wafat demi menebus dosa umat manusia. “Yang berdosa siapa, yang menanggung siapa?” Sungguh tidak adil. Namun, begitulah Yesus, Ia tidak ‘memanfaatkan” ke-Tuhan-an-Nya. Justru sebaliknya, ia memberikan teladan kerendahan hati yang begitu mendalam.
Di sisi yang lain, orang yang disalibkan bersama Yesus, yang dikenal sebagai Santo Disma, memberikan teladan yang baik arti sebuah pertobatan dan kerendahan hati. Setelah melihat dan mengetahui pribadi Yesus, Disma mengakui kelemahan dan kesalahan dirinya. Ia sadar bahwa ia adalah orang yang berdosa dan salah. Oleh karenanya, Ia mengatakan kepada Yesus, “Yesus, ingatlah aku, bila Engkau masuk ke kerajaan-Mu”. Dan saat itu juga, dari kerendahan hatinya, Yesus mengampuni dosa Disma dan memberikan tempat yang layak baginya dalam kerajaan-Nya.
Saudara/ri, bacaan Injil dan tokoh-tokoh yang kita dengar hari ini, begitu jelas memberikan inspirasi dalam hidup kita. Acap kali kita lupa untuk belajar rendah hati dan lupa bahwa kita kita ini manusia yang lebah, berdosa, dan salah. Oleh karenanya, hari ini kita diingatkan bersama, mari belajar rendah hati. Tak perlu malu atau gengsi kalau memang kita ini manusia yang lemah dan berdosa. Justru sebaliknya, belajar rendah hati, menerima kelemahan, dan kekurangan senantiasa mengingatkan kita untuk terus memautkan diri pada Allah yang sudah dan akan terus baik dalam hidup kita.
Tuhan memberkati.
Picture credit: Photo by Raphael Nogueira on Unsplash


