ICC Mass Homily 03/15/2025: Allah Di Antara Kita
By Romo Matheus Ro, SVD
Bible readings for the Mass (second Sunday of Lent): Genesis 15:5-12, 17-18; Philippians 3:17-4:1; and Luke 9:28b-36
Apakah kalian masih ingat adegan Wizard of Oz dimana Dorothy, Scarecrow, Tin Man, dan Lion akhirnya bertemu dengan Wizard?
Suaranya menggelegar, dan semuanya dikelilingi oleh api, guntur, dan kepulan asap. Kemudian, anjing Dorothy, Toto, menarik tirai hijau, dan kita melihat si lelaki dan mesin di balik suara Wizard. Setelah Sang Penyihir mengetahui siapa dia sebenarnya, dia berteriak, “Jangan perhatikan pria di balik tirai itu!” (“Pay no attention to that man behind the curtain!”)
Kisah Transfigurasi Yesus serupa, tetapi kebalikan dari Wizard of Oz. Yang saya suka dari kisah Injil ini adalah kemana kisah ini membawa kita. Saya tidak bicara tentang gunung yang didaki oleh Petrus, Yohanes, Yakobus dan Yesus. Kisah Transfigurasi tidak membawa kita ke atas dan menjauh dari kenyataan. Kisah ini membawa kita lebih dekat kepada kenyataan yang sering kita abaikan, cahaya yang kadang kita abaikan, dan suara yang sering kita lewatkan di tengah kebisingan kehidupan sehari-hari. Kenyataan ini tidak berada di puncak gunung. Realitas ini tinggal di dalam jiwa, pikiran, dan hati kita. Ini adalah realitas kehadiran Tuhan dalam hidup kita.
Kadang kita berpikir bahwa kita dapat bersembunyi dari Tuhan, bahwa Tuhan tinggal di surga sementara kita menjalankan hidup sendiri di bumi ini. Terkadang kita lebih memilih bayangan daripada cahaya. Tetapi kehadiran Allah ada di dalam diri kita dan di sekitar hidup dan dekat dengan kita.
Ketika Yesus berubah rupa di hadapan Petrus, Yohanes dan Yakobus, tirai kemanusiaan-Nya tersingkap. The Wizard of Oz adalah sebuah kisah yang mengungkapkan rasa malu sang penyihir, tetapi pada peristiwa transfigurasi ini, tirai tersebut disingkap untuk mengungkapkan kebenaran tentang Yesus.
Sang Penyihir berkata kepada Dorothy dan teman-temannya, “Jangan perhatikan orang yang ada di balik tirai,” tetapi Yesus mengundang kita untuk melakukan yang sebaliknya. Tirai itu disingkapkan agar teman-teman Yesus dapat melihat Dia dan memperhatikan Dia, Tuhan atas hidup kita.
Dorothy dan teman-temannya mengikuti jalan berbatu kuning ke Oz. Petrus, Yakobus, dan Yohanes naik ke puncak gunung mengikuti Yesus. Ke mana kita pergi untuk mencari Tuhan? Kita datang ke sini, ke komunitas iman ini, ke perayaan Sabda ini, ke Meja persembahan ini, untuk menemukan Tuhan, dan sangat baik bahwa kita melakukan hal itu karena Tuhan ada di sini di antara umat-Nya, di dalam Kitab Suci, dan di dalam Ekaristi.
Saya kira, dengan cara tertentu, ketika kita datang ke Misa setiap minggu, kita mendaki ke tempat di puncak gunung ini, di mana Tuhan menyingkap tirai dalam sabda dan sakramen, menunjukkan diri-Nya kepada kita.

Dalam bacaan Injil hari ini Yesus mendaki gunung dan kemudian turun kembali bersama para sahabat-Nya. Dia mendaki gunung bersama mereka, dan dia pulang bersama mereka. Dan Dia melakukan hal yang sama dengan kita. Dia telah bersama kita selama satu bulan terakhir ini sejak terakhir kali kita bertemu di sini.
Dia tidak pernah meninggalkan sisi kita. Dia bersama kita di saat-saat yang baik dan buruk, dalam kesakitan dan kesuksesan, dalam harapan dan kegagalan, di saat lemah dan kuat. Dia bersama kita saat tertawa dan menangis. Di setiap saat, Dia bersama kita, dekat dengan kita, di dalam diri kita, hidup di dalam jiwa, pikiran, dan hati kita.
Kita mungkin telah mengabaikan kehadiran-Nya. Kita mungkin telah mengabaikan kecerahan cahayanya yang menyinari kita, atau mengabaikan suara dan firman-Nya, yang mengatakan kebenaran kepada kita. Tetapi Dia tidak mengabaikan kita. Dia tidak pernah berhenti menyampaikan kasih-Nya kepada kita, entah kita berhenti dalam doa untuk mendengarkan-Nya atau tidak.
Masa PraPaskah adalah waktu untuk mencari cara-cara Tuhan menyingkapkan tirai antara Dia dan kita, sehingga kita dapat melihat dengan lebih jelas siapa Dia dan di mana Dia berada, di setiap saat dalam setiap hari dalam hidup saya.
Dalam doa, tirai itu disingkapkan agar Tuhan dan kita dapat duduk dan berbicara bersama, sehingga kita dapat mendengar firman kasih-Nya dan kebenaran Sabda-Nya.
Puasa mengajarkan kita untuk melepaskan, berkorban, dan hidup tanpa harta benda sehingga kita dapat memahami betapa kita membutuhkan Tuhan, menolong orang miskin sama seperti bertemu dan melayani Yesus, yang telah menyerahkan kekayaannya untuk menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita.
Dalam Ekaristi, tirai disingkapkan, dan kita melihat keilahian Yesus. Dalam roti serta anggur secara jelas kita melihat kehadiran Kristus.
Kristus menunjukkan diri-Nya di atas gunung sebagai Penebus kita, dan Dia menunjukkan diri-Nya di altar ini sebagai Kristus Yesus yang sama, Juru Selamat kita. Berdoalah bersama saya agar di masa PraPaskah yang kudus ini, kita berikan perhatian penuh kepada Tuhan yang tunjukkan diri-Nya sebagai Anak Allah. Amin.
Featured image credit: Photo by Boris Baldinger on Unsplash