ICC Mass Homily 3/21/26: Kasih yang Menghidupkan di Ambang Keputusasaan
Homily by Romo Matheus Ro, SVD
Bible readings for the Mass (Fifth Sunday of Lent): Ezekiel 37:12-14, Romans 8:8-11, and John 11:1-45
Kisah pembangkitan Lazarus bukan sekadar mukjizat tentang kembalinya nyawa seseorang, melainkan sebuah pernyataan diri Yesus yang paling radikal: “Akulah kebangkitan dan hidup.” Dalam narasi ini, kita melihat perpaduan yang luar biasa antara kemanusiaan Yesus yang penuh empati dan keilahian-Nya yang berkuasa atas maut. Ketegangan dimulai ketika Maria dan Marta mengirim kabar bahwa Lazarus sakit, namun Yesus justru menunda keberangkatan-Nya. Penundaan ini sering kali menjadi ujian terberat bagi iman kita; kita merasa Tuhan terlambat, kita merasa doa kita tidak terjawab tepat waktu, dan akhirnya kita menyerah pada situasi yang kita anggap sudah “mati”.
Ketika Yesus tiba, Lazarus sudah empat hari di dalam kubur. Secara manusiawi, harapan sudah musnah dan bau busuk mulai tercium. Marta mengungkapkan kepedihannya, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” Ungkapan ini mencerminkan keterbatasan pandangan kita yang sering kali membatasi kuasa Tuhan hanya pada penyembuhan fisik sebelum kematian terjadi. Namun, Yesus menarik Marta—dan juga kita—ke dalam pemahaman yang lebih dalam. Iman bukan hanya tentang percaya bahwa Tuhan “bisa” melakukan sesuatu di masa lalu atau masa depan, tetapi percaya bahwa Dia “adalah” Sang Hidup itu sendiri di sini dan saat ini.
Momen paling menyentuh adalah ketika Yesus menangis. Air mata Yesus menunjukkan bahwa Dia tidak jauh dari penderitaan kita. Dia merasakan kepedihan kehilangan yang kita alami. Namun, air mata itu diikuti oleh perintah yang otoritatif: “Angkat batu itu!” Yesus meminta keterlibatan manusia untuk menyingkirkan batu penghalang—batu keraguan, batu keputusasaan, atau batu masa lalu yang kelam—sebelum mukjizat dinyatakan. Pembangkitan Lazarus menjadi tanda bahwa bagi Allah, tidak ada situasi yang terlalu “berbau busuk” atau terlalu mustahil untuk dipulihkan.
Melalui peristiwa ini, kita diajak untuk melihat bahwa kemuliaan Allah sering kali dinyatakan justru di titik terendah hidup kita. Kematian Lazarus diizinkan terjadi agar kuasa Allah nyata bagi banyak orang. Kita dipanggil untuk percaya bahwa di balik setiap penundaan Tuhan, ada rencana yang lebih besar untuk memuliakan nama-Nya. Seperti Lazarus yang keluar dari kubur dengan kaki dan tangan yang masih terikat kain, kita pun sering kali dipanggil keluar dari “kubur” dosa dan keterpurukan kita. Tuhan ingin kita hidup sepenuhnya, bebas dari belenggu maut, karena di dalam Dia, kematian bukanlah akhir, melainkan gerbang menuju kehidupan yang baru.
Image credit: The Raising of Lazarus by Luca di Tommè (1330–1389).


